Sabtu, 01 April 2017

anggrek tebu

Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum) Anggrek Terbesar

Anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) merupakan anggrek terbesar, paling besar dan paling berat diantara jenis-jenis anggrek lainnya. Dalam satu rumpun dewasa, anggrek tebu dapat mencapai berat lebih dari 1 ton dan mempunyai panjang malai hingga 3 meter dengan diameter malai sekitar 1,5-2 cm. Itulah sebabnya tanaman ini layak menyandang predikat sebagai anggrek terbesar dan terberat atau anggrek raksasa.
Anggrek tebu sering disebut juga sebagai anggrek macan (meskipun rancu Grammatophyllum scriptum yang memiliki nama serupa), anggrek harimau, dan anggrek ratu. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sugar Cane Orchid, Giant Orchid, atau Queen of the Orchids. Dalam bahasa latin (nama ilmiah) anggrek tebu disebut sebagai Grammatophyllum speciosum yang bersinonim dengan Grammatophyllum cominsii (Rolfe 1891), G. fastuosum (Lindl. & Paxton 1851 & Paxton 1851), G. giganteum (Rchb ex Blume. 1877), G. macranthum (Rchb. 1862), G. pantherinum (Rchb. 1878), G. pantherinum (Rchb.f 1878), G. papuanum (JJ Sm.), G. sanderianum (hort. 1893), G. wallisii (Rchb. 1877),Pattonia macrantha (Wight 1852).
Ciri-ciri. Ciri utama anggrek tebu adalah ukurannya yang besar. Malai dapat tumbuh mencapai ketinggian 2,5 – 3 meter dengan diameter sekitar 1,5-2 cm. Dalam setiap malai bisa memiliki puluhan, bahkan mencapai seratus kuntum bunga yang masih-masing bunga berdiameter sekitar 10 cm. Sosok batangnya ini memang mirip dengan tebu lantaran itu kemudian anggrek ini terkenal sebagai anggrek tebu.
Bunga anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) berwarna kuning dengan bintik-bintik berwarna coklat, merah atau merah kehitam-hitaman. Bunga anggrek tebu tahan lama dan tidak mudah layu. Meskipun telah dipotong dari batangnya bunga raksasa yang super besar dan berat ini mampu bertahan 2 bulan.
Persebaran dan Konservasi. Tanaman anggrek tebu tersebar secara alami mulai dari Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Malaysia, Indonesia, hingga New Guinea. Di Indonesia anggrek tebu tersebar ulai dari pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Tanaman bunga anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) tumbuh di sela-sela atau pangkal pohon besar di daerah dataran rendah yang beriklim tropis. Anggrek tebu membutuhkan sinar matahari langsung.
Keunikan dan langkanya tanaman anggrek terbesar dan terberat ini membuat anggrek tebu menjadi salah satu anggrek yang dilindungi di Indonesia.
Diantara sobat, terutama pecinta anggrek, ada yang telah membudidayakan jenis anggrek tebu ini?
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Ordo: Asparagales Famili: Orchidaceae Subfamili: Epidendroideae Suku: Cymbidieae Genus: Grammatophyllum Spesies: Grammatophyllum speciosum.
Nama Binomial: Grammatophyllum speciosum ( Blume 1825). Nama Indonesia: Anggrek tebu

balam suntai

Balam Suntai (Palaquium walsurifolium),balam suntai adalah salah satu  jenis tanaman langka asli indonesia.tanaman langka ini memiliki kualitas kayu yang baik. kelas keawetan tanaman langka ini adalah kelas IV dan kekuatannya kelas II. maka tidaklah heran kalau tanaman langka ini  banyak dicari orang.





Getah perca atau Palaquium adalah salah satu tumbuhan asli Nusantara yang tersebar di Indonesia bagian barat dan Semenanjung Malaya. Tumbuhan ini juga terdapat Australasia, Taiwan bahkan sampai ke Kepulauan Solomon.

Ciri-ciri:

Pohon dengan tinggi sampai 30 meter dan diameter 0,5 meter.
Berbatang tegak dengan warna merah kecoklat-coklatan
Pepagannya berwarna kuning sampai merah dan bergetah putih.
Berdaun tunggal dengan bentuk bundar telur sungsang sampai jorong.
Bunga mengelopak pada ketiak daun.
Tumbuh di hutan tanah rendah dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.

Kegunaan[sunting :
Tumbuhan ini mempunyai kelas keawetan IV dan kelas kekuatan II. Sehingga cocok digunakan sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga, alat olahraga maupuun alat musik tradisional. Getahnya (terutama P. gutta) dapat disadap unutk pembuatan mainan anak-anak. Bijinya mengandung kadar lemak yang tinggi.



anggrek larat

Anggrek Larat

Anggrek larat (Dendrobium phalaenopsis) merupakan salah satu anggrek langka dari maluku. Anggrek ini pernah menjadi anggrek yang sangat digemari oleh pecinta anggrek disamping anggrek bulan. Oleh karena itu pada saat ini banyak sekali ditemukan anggrek hibrida komersial dendrobium yang merupakan hasil persilangan dari anggrek spesies (anggrek alami) jenis ini. Mungkin hal ini lah yang menjadi penyebab kelangkaan dan kepunahan bunga anggrek larat di habitat aslinya. Anggrek larat termasuk dalam 12 jenis spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah No 7 tahun 1999.
Anggrek larat disebut juga dengan sebutan Cooktown Orchid, berkerabat dengan anggrek merpati, anggrek albert, anggrek stuberi, anggrek jamrud, anggrek karawai, dan anggrek kelembai. Habitat asli anggrek ini pertama kali ditemukan di Pulau Larat, Tanimbar, Maluku. Oleh karena itu anggrek larat ditetapkan sebagai flora identitas Provinsi Maluku. Anggrek larat tumbuh di daerah yang bersuhu panas, dengan ketinggian 0-150 meter di atas permukaan laut. Anggrek ini merupakan anggrek epifit yang tumbuh pada pepohonan dan karang-karang kapur yang mendapat sinar matahari yang cukup.
Bunga anggrek larat berwarna ungu tua ataupun ungu pucat yang tersusun membentuk tandan yang tumbuh pada buku batangnya dengan posisi agak menggantung. Memiliki panjang tandan bunga sekitar 60 cm dengan jumlah bunga masing-masing tandan 6-24 kuntum. Tiap-tiap bunga memiiki garis tengah dengan panjang sekitar 6 cm. Daun anggrek larat membentuk lanset dengan ujung yang tidak simetris dengan panjang daun sekitar 12 cm dan lebar sekitar 2 cm. Daun kelopaknya juga berbentuk lanset dengan warna ungu. Daun mahkotanya lebih pendek, tetapi lebih lebar dari kelopak bunganya. Pangkal daun mahkotanya sempit dan runcing pada bagian ujungnya yang juga memiliki warna keungu-unguan. Bibir bertajuk tiga membentuk corong dengan tajuk tengahnya lebar dan runcing. Buah bunganya berbentuk jorong dengan ukuran panjang 3,2 cm. Batang anggrek larat berbentuk gada dengan pangkal yang kecil. Bagian tengahnya membesar dan mengecil kembali
 
Anggrek Langka, Jenis Anggrek
Anggrek Larat Yang Langka


Klasifikasi Ilmiah.
Kerajaan    : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas         : Liliopsida
Ordo          : Orchidales
Famili        : Orchidaceae
Genus        : Dendrobium
Spesies      : Dendrobium phalaenopsis

 

raflesia arnolodi


Raflesia Arnoldi


Bunga Rafflesia hidup di Taman Nasional Bengkulu, mempunyai ukuran dengan diameter bunga yang hampir mencapai 1 meter. Bunga ini terkenal dengan sebutan bunga bangkai karena mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga digunakan untuk menarik lalat yang hinggap dan membantu penyerbukan. Raflesia Arnoldi merupakan tumbuhan parasit yang memerlukan inang untuk hidupnya. Saat ini kondisi habitat Raflesia Arnoldi sangat memprihatinkan sehingga jumlahnya menurun drastis dari tahun ke tahun. Menyusutnya habitat bunga tersebut di antaranya disebabkan kegiatan manusia seperti pembukaan wilayah hutan baik untuk kegiatan pertambangan, pertanian, maupun permukiman.

komodo,kadal terbesar kebanggan indonesia

Komodo, Kadal Terbesar Kebanggaan Indonesia

Komodo atau Biawak Komodo (Varanus komodoensis), merupakan spesies reptil terbesar di dunia yang terdapat di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara, Indonesia. Komodo yang ditemukan pertama kali oleh peneliti barat pada tahun 1910.
Komodo (Varanus komodoensis) merupakan satu diantara 3 satwa nasional Indonesia. Komodo sebagai satwa bangsa mendampingi burung elang jawa (satwa langka) dan ikan siluk merah (satwa pesona). Komodo juga ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Timur.
komodo2
Komodo dalam bahasa latin disebut sebagai Varanus komodoensis. Oleh masyarakat setempat biasa dinamakan Ora. Beberapa nama lain komodo seperti Biawak Komodo, Komodo Dragon, Komodo Island Monitor, dan Komodo Monitor.
Habitat komodo yang hanya terdapat di beberapa pulau di Nusa Tenggara yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo juga mendapat apresiasi di dunia internasional dengan lolosnya menjadi salah satu dari 28 finalis New 7 Wonders of Nature.

Ciri-ciri dan Perilaku Komodo

Komodo menjadi reptil terbesar di dunia yang mempunyai panjang tubuh mencapai 3 meter dan berat 70 kg. Spesimen liar terbesar yang ditemukan mempunyai panjang 3.13 meter dengan berat 166 kilogram (termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya). Meskipun untuk spesies komodo yang hidup di penangkaran mampu memiliki berat yang lebih besar.
Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam masing-masing sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap berganti. Pada giginya terdapat jaringan gingiva yang sering tercabik saat makan. Karenanya sering kali ditemua sedikit darah pada air liur komodo. Air liur ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal bagi sejenis bakteri mematikan yang hidup di mulut komodo.
Lidah komodo panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan berukuran lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata. Sementara kulit komodo betina berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.
Komodo tak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun kurang baik melihat di kegelapan malam. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap. Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer.
Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cicak, dan mamalia kecil.
Biawak komodo (Varanus komodoensis) aktif pada siang hari, walaupun terkadang aktif juga pada malam hari. Komodo adalah binatang yang penyendiri, berkumpul bersama hanya pada saat makan dan berkembang biak. Reptil terbesar di dunia ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak dekat, dapat berenang menyelam hingga sedalam 4.5 meter. Komodo juga pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang tubuh.
komodo1

Habitat dan Persebaran

Komodo atau Ora (Varanus komodoensis) secara alami terdapat di pulau Komodo, Flores dan Rinca, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Pulau-pulau tersebut termasuk dalam wilayah Taman Nasional pulau Komodo yang merupakan salah satu finalis New 7 Wonders of Nature.
Komodo hidup di padang rumput kering terbuka, sabana dan hutan tropis pada ketinggian rendah, biawak terbesar ini menyukai tempat panas dan kering. Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1–3 meter. Karena besar tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya. Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya.

Konservasi dan Populasi

Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan sehingga oleh IUCN Redlist dikatagorikan dalam status konservasi Rentan (Vurnerable). CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species) telah menetapkan bahwa perdagangan komodo, kulitnya, dan produk-produk lain dari hewan ini adalah ilegal.
Sekitar 4.000–5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100), Gili Dasami (100), Komodo (1.700), dan Flores (mungkin sekitar 2.000 ekor, Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak.
Bertolak dari kekhawatiran ini, sejak tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar. Belakangan ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo.
Aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat, kebakaran, berkurangnya mangsa, meningkatnya pariwisata, dan perburuan gelap; semuanya menyumbang pada status rentan yang disandang komodo.
Tentang komodo ini memang tidak ada kata lain selain satwa yang amat unik yang telah dianugerahkan kepada bumi Indonesia. Maka sudah tidak ada tawar menawar lagi kita musti melindunginya.

badak sumatra atau badak bercula dua

  Badak Sumatera atau Badak Bercula Dua


Informasi Tentang Badak Sumatera atau Badak Bercula Dua
Badak Sumatera atau Badak Bercula Dua merupakan spesies badak paling langka di dunia bersama dengan badak jawa. Badak jenis ini merupakan yang paling kecil dari spesies badak saat ini.
Badak Sumatera merupakan binatang yang soliter. Habitat badak sumatera adalah di wilayah dalam dari hutan gunung yang belantara di wilayah Malaysia, Indonesia (Pulau Sumatera), dan kemungkinan juga Myanmar.
Makanan badak sumatera antara lain buah, ranting, daun, dan semak-semak. So, mereka adalah binatang herbivora. Seperti kebanyakan jenis badak lainnya, badak sumatera juga memiliki indera penciuman dan pendengaran yang sangat tajam. Mereka akan meninggalkan semacam bau yang dapat dilacak di seisi hutan yang dapat digunakan untuk menemukan lokasi badak lainnya.
Sebagai spesies badak terkecil, badak sumatera memiliki berat sekitar 800 kg, dan dapat tumbuh hingga setinggi 1,5 m diukur dari pundak, dengan panjang sekitar 2,5 hingga 3,2 m.
Badak Sumatera memiliki 2 tanduk. Panjang tanduk utama bisa tumbuh mencapai 79 cm, sedangkan tanduk sekundernya hanya tumbuh hingga sekitar 10 cm. Tanduk ini adalah senjata pertahanan dari sang badak. Ironisnya, justru karena tanduk inilah badak jadi diburu oleh manusia untuk diambil tanduknya.
Tanduk badak ini diburu untuk digunakan sebagai bahan baku obat tradisional di China, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Tanduk badak ini juga berharga di Timur Tengah, khususnya Yaman, dan Afrika Utara untuk digunakan sebagai aksesoris gagang belati.

Saat ini populasi badak Sumatera berada pada status "Kritis (CR)" menurut data Redlist IUCN. Diperkirakan hanya ada sekitar 400 badak sumatera yang saat ini masih ada. Sayangnya kebanyakan badak-badak sumatera yang tinggal di penangkaran atau kebun binatang sangat susah untuk bisa berkembang biak.

Pada tahun 2001, untuk pertama kalinya seekor anak badak sumatera lahir di kebun binatang Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Dan merupakan persalinan yang tersukses dalam rentang waktu 100 tahun.

monyet hitam sulawesi

Populasi Yaki di Sulawesi Utara tersisa kurang dari 5.000 ekor. Si monyet hitam endemik Sulawesi tersebut masih diburu.

Yaki, Si Monyet Hitam SulawesiMemperhatikan dengan penuh keingintahuan, yaki yang buntung tangan kanannya akibat terkena jerat sewaktu kecil ini ditandai para peneliti dengan nama Kacang. Jerat satwa, perburuan, serta kerusakan habitat adalah ancaman bagi yaki.. (Reynold Sumayku/National Geographic Indonesia)
Baru-baru ini tersebar kabar seorang pria yang mengunggah foto dirinya sedang menyembelih satwa ke media sosial dikecam oleh pegiat lingkungan. Sebab kabarnya, satwa tersebut adalah salah satu satwa liar yang hampir punah dan dilindungi di Indonesia.
yaki,macaca nigra,primata,monyetPada siang hari, betina dewasa menyelisik yaki muda dalam sesi bersosialisasi dan beristirahat, selingan dari kegiatan bergerak dan mencari makan. (Reynold Sumayku/NGI).
Ia tinggal di Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau di sekitarnya. Rambutnya hitam, ada jambul di kepalanya.
Tingginya sekitar 44-60 sentimeter, berat badannya sekitar 7-15 kilogram. Makanan sehari-harinya adalah berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, pucuk daun, biji, bunga, umbi, dan buah.
Ia juga memakan beberapa jenis serangga, moluska, invertebrata kecil, bahkan ular. Seperti manusia, ia tidak dapat hidup sendirian, melainkan berkelompok.
Macaca nigra namanya. Ia lebih sering dikenal sebagai yaki.
Inilah monyet terbesar di Sulawesi. Namun, terancam punah sehingga dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan UU RI No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999.
Penyebab kepunahannya adalah warga lokal yang suka memburu yaki untuk disantap. Walaupun tidak banyak warga lokal memakannya, namun jumlah warga yang sedikit itu cukup untuk mengurangi jumlah monyet tersebut. Selain menjadi santapan, monyet-monyet ini juga diperdagangkan di sejumlah pasar di Minahasa dan Tomohon.
Populasi yaki di Sulawesi Utara yang tersisa adalah kurang dari 5.000 ekor, 2.000 ekor di antaranya hidup di Cagar Alam Tangkoko-Duasudara.
Saat ini ada banyak sekali gerakan penyelamatan satwa-satwa liar. Yaki pun memiliki tim pendukungnya sendiri, salah satunya adalah program Selamatkan Yaki. Program ini merupakan program konservasi, edukasi dan riset untuk melindungi monyet hitam Sulawesi dan hutan habitat mereka. Harry Hilser, Field Project Manager bagi program tersebut, mengatakan, dalam kurun waktu 20 tahun populasi satwa ini turun 80 persen