Sabtu, 01 April 2017

anggrek kantung kolopaking

Anggrek Kantung Kolopaking (Paphiopedilum kolopakingii)

Anggrek atau Paphiopedilum kolopakingii mengingatkan saya akan nama salah seorang seniman Novia Kolopaking yang pernah tenar sebagai pemeran Siti Nurbaya. Saya tidak tahu ada hubungan apa antara Novia Kolopaking yang istri Emha Ainun Najib ini dengan bunga anggrek kantung kolopaking atau Paphiopedilum kolopakingii.
Yang pasti anggrek kantung kolopaking atau Paphiopedilum kolopakingii termasuk salah satu jenis anggrek langka yang indah yang juga merupakan tumbuhan endemik Kalimantan Tengah. Meskipun tidak termasuk dalam daftar merah IUCN tetapi tumbuhan langka ini justru termasuk dalam daftar CITES Apendiks I.
Nama latin tumbuhan ini adalah Paphiopedilum kolopakingii Fowlie yang bersinonim dengan Paphiopedilum topperi Braem & Mohr. Di Indonesia jenis anggrek langkaini mendapatkan nama anggrek kantung kolopaking.
Anggrek kantung kolopaking
Anggrek kantung kolopaking
Diskripsi dan Ciri. Anggrek kantung kolopaking (Paphiopedilum kolopakingii) memiliki daun berwarna hijau tua, berbentuk pita dengan ujung membulat dengan panjang antara 20-80 cm dan lebar antara 5-12 cm.
Perbungaan anggrek kantung kolopaking mempunyai panjang 45-90 cm dengan 5-19 kuntum bunga. Tangkai perbungaan berwarna hijau kekuningan. Bunganya berukuran 8-16 cm dengan kelopak putih yang terdapat garis-garis coklat kemrahan atau coklat tua pada uratnya.
Bunga anggrek kantung kolopaking
Bunga anggrek kantung kolopaking
Bunga anggrek Paphiopedilum kolopakingii hidup di habitat yang berupa batuan berlumut di tepi tempat-tempat berair pada daerah berketinggian antara 600-110 meter dpl. Persebarannya hanya terbatas di darah Kalimantan Tengah.
Pada tahun 1994 anggrek kantung kolopaking pernah terdaftar dalam IUCN Redlist dalam status endangered. Namun saat ini anggrek yang langka ini dievaluasi sebagai spesies yang aman dari kepunahan. Meskipun demikian, CITES tetap memasukkan anggrek bernama latin Paphiopedilum kolopakingiidalam daftar CITES Apendiks I yang berarti kelestarian tumbuhan ini dianggap masih sangat terancam sehingga tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apapun.
Anggrek Paphiopedilum kolopakingii
Anggrek Paphiopedilum kolopakingii
Kelestarian tumbuhan langka ini terancam oleh laju deforestasi hutan, kebakaran hutan, dan perburuan dan perdagangan ilegal. Sungguh amat disayangkan jika anggrek secantik ini akhirnya punah.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Asparagales; Famili:Orchidaceae; Genus: Paphiopedilum; Spesies: Paphiopedilum kolopakingii

berus mata buaya

Berus Mata Buaya (Bruguiera hainesii) Bakau Cantik Langka

Berus Mata Buaya atau Bruguiera hainesii menjadi salah satu jenis tanaman bakau (mangrove) yang sangat langka dan terancam kepunahan di dunia. Jenis pohon bakau yang mempunyai bunga yang cantik dan indah ini oleh IUCN Redlist diberi status konservasi Critically Endangered (Kritis).
Bruguiera hainesii merupakan anggota family Rhizophoraceae. Masyarakat Melayu umumnya mengenalnya sebagai Berus Mata Buaya atau Bakau Mata Buaya. Sedangkan dalam bahasa Inggris di samping penyebutannya menggunakan nama latin, tumbuhan ini acapkali disebut sebagai Eye of the Crocodile atau Orange Mangroves.
Diskripsi Bakau Mata Buaya. Pohon bakau jenis ini tumbuh cukup tinggi mencapai 30 meter. Batang berdiameter hingga 70 cm. Kulit batang berwarna coklat hingga abu-abu, dengan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak.
Daun berwarna hijau dengan bentuk elips hingga bulat memanjang dengan ujung daun meruncing. Panjang daun berkisar antara 9 – 16 cm dengan lebar antara 4 – 7 cm. Bunga tumbuh pada ujung atau ketiak tangkai dengan mahkota berwarna putih dan berukuran panjang antara 7 – 9 mm. Bunga Bruguiera hainesii berambut pada tepi bawah dan agak berambut pada bagian atas cuping. Kelopak Bunga berwarna hijau pucat. Buah hipokotil dengan bentuk cerutu atau agak melengkung dan menebal menuju bagian ujung. Ukuran panjang hipokotil sekitar 9 cm dengan diameter 1 cm.
Bakau Mata Buaya (Bruguiera hainesii)
Bakau Mata Buaya (Bruguiera hainesii)
Umumnya bakau mata buaya tumbuh di tepi hutan mangrove. Pada daerah yang relatif kering dan hanya tergenang air laut beberapa jam sehari saja pada saat terjadi pasang tertinggi. Tumbuhan dengan nama latin Bruguiera hainesii ini tumbuh tersebar mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia, hingga ke Papua Nugini.
Belum ada penelitian yang mengungkap secara detail baik persebaran maupun populasi flora ini di wilayah pesisir Indonesia. Namun secara global, IUCN Redlist menganggapnya sebagai salah satu tumbuhan yang sangat terancam kepunahan akibat semakin rusaknya daerah pesisir pantai terutama oleh aktivitas manusia. Karena itu kemudian IUCN Redlist mendaftar flora ini dalam status Critically Endangered atau Kritis (Sangat Terancam Punah).
Pemanfaatan jenis mangrove ini bagi manusia secara langsung belum banyak yang terungkap. Tentunya di samping sebagai salah satu komponen hutan mangrove dan kaitannya dalam ekosistem. Padahal Si Berus Mata Buaya bunga yang indah ini semakin hari semakin langka dan terancam punah.
Klasifikasi Ilmiah: Kingdom: Plantae. Phylum: Tracheophyta. Class: Magnoliopsida. Order: Rhizophorales. Family: Rhizaphoraceae. Genus: Bruguiera. Spesies: Bruguiera hainesii

cendana

Cendana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Cendana
Santalum album - Köhler–s Medizinal-Pflanzen-128.jpg
Cendana Santalum album dari Köhler
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Santalales
Famili: Santalaceae
Genus: Santalum
Spesies: S. album
Nama binomial
Santalum album
L.
Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.
Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.[2]
Kayu cendana wangi (Santalum album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap yang paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Timor juga sangat dihargai. Sebagai gantinya sejumlah pakar aromaterapi dan parfum menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.
Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan cara Ayurveda, dan untuk menghilangkan rasa cemas.

Arti lain

Di Indonesia, kata "Cendana" sering digunakan oleh pers untuk menyebut sesuatu yang berkaitan dengan Soeharto, presiden R.I. yang kedua, dan orang-orang dekatnya. Alasannya karena rumah pribadi Soeharto beserta beberapa anaknya terletak di Jalan Cendana, Jakarta Pusat.
Ditinjau dari bahasa Belanda (sandelhout) dan bahasa Inggrisnya (sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT khususnya Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga sekarang.

ENAU

 ENAU

Pemerian

Pohon enau
Situgede, Bogor, Jawa Barat
Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang.
Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.
Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga,[2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.

Kegunaan

Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.

Nira dan gula

Tongkol bunga jantan (kanan) dan yang disadap niranya (sebelah kiri)
Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.
Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.
Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.
Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih (Xylocarpus) atau sejenis manggis hutan (Garcinia)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit.
Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.
Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.[1]

Kolang-kaling

Buah aren dan kolang-kaling
Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.[1]. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling.
Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Produk lain

Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.
Seperti halnya daun, ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.
Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat. Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air.
Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau cambuk.[1]

Ekologi dan penyebaran

Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal usul dari wilayah Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m dpl..[2] Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.
Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di Bangka, pada masa lalu orang-orang Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan.[1]

Perbanyakan

Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :
  1. Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.
  2. Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.
Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan buah
Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.
2. Pengambilan biji dari buah
Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.
Anakan (semai) pohon aren
3. Perkecambahan
Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.
4. Pembibitan
Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.

bunga anggrek hitam

Bunga anggrek hitam

anggrek hitam coelogyne pandurata
Anggrek hitam coelogyne pandurata

Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah spesies anggrek yang hanya tumbuh di pulau Kalimantan. Anggrek hitam adalah maskot flora propinsi Kalimantan Timur. Saat ini, habitat asli anggrek hitam mengalami penurunan jumlah yang cukup besar karena semakin menyusutnya luas hutan di Kalimantan namun masih bisa ditemukan di cagar alam Kersik Luway dalam jumlah yang sedikit. Diperkirakan jumlah yang lebih banyak berada di tangan para kolektor anggrek.
Dinamakan anggrek hitam karena anggrek ini memiliki lidah (labellum) berwarna hitam dengan sedikit garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Sepal dan petal berwarna hijau muda. Bunganya cukup harum semerbak dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni.
Anggrek hitam termasuk dalam anggrek golongan simpodial dengan bentuk bulb membengkak pada bagian bawah dan daun terjulur di atasnya. Setiap bulb hanya memiliki dua lembar daun saja. Daunnya sendiri sekilas mirip seperti daun pada tunas kelapa muda.

tanaman bayur

Tanaman Bayur (pterosperium Javanicum Jungh)

Bayur adalah tumbuhan langka penghuni hutan dataran rendah, dan kemudian juga hutan-hutan sekunder, di bawah 1.000 m dpl. Tidak jarang pula dijumpai di hutan-hutan tepi sungai dan hutan pantai. Biji-bijinya memencar dengan bantuan angin. Tumbuh dengan sendirinya di kebun-kebun wanatani yang berdekatan, bayur biasanya dibiarkan hidup hingga besar untuk dipanen kayunya yang berharga.
Tanaman Bayur
Meski umum ditemukan pada tanah lembap yang tidak tergenang air, bayur juga tumbuh baik pada tanah-tanah kering di dalam hutan gugur daun tropika di atas tanah liat, tanah pasir atau tanah liat berpasir. Iklim yang disukainya adalah basah hingga kemarau agak kering, dengan tipe curah hujan A-C.
Kayu bayur adalah jenis kayu khas dari daerah tropis, salah satunya seperti Indonesia. Sebagaimana di lansir oleh indonesianforest.com, di Indonesia, kayu bayur banyak terdapat di berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Hal tersebut mungkin memang benar, sebab faktanya (khusus di Jawa), populasi pohon penghasil kayu bayur ini memang banyak ditemukan, bahkan jumlahnya tergolong masih sangat banyak terutama di daerah-daerah yang memiliki banyak kawasan hutan.
Selain dikenal sebagai kayu khas daerah tropis, kayu bayur juga dikenal sebagai jenis kayu yang memiliki nilai komersial cukup baik di pasaran (lihat daftar jenis-jenis kayu bernilai komersial). Sebab, sama halnya dengan jenis kayu pertukangan lainnya (seperti kayu jati ataupun kayu mahoni), kayu bayur ini juga merupakan sebuah komoditas penting yang banyak diperjualbelikan di pasaran.
Kayu bayur
Biasanya, yang paling banyak membutuhkan kayu bayur adalah industri-industri pengolahan kayu, contohnya adalah mebel (baik mebel skala besar maupun mebel skala kecil). Oleh mereka, kayu bayur digunakan sebagai bahan baku alternatif untuk membuat berbagai macam produk dan kerajinan yang bernilai jual tinggi. Produk-produk tersebut antara lain seperti furniture, pintu, kusen, jendela, lantai kayu dan aneka produk berbahan kayu lainnya. Selain itu, kayu bayur juga banyak digunakan oleh para tukang perahu di daerah pesisir untuk membuat beraneka macam perahu nelayan.
Supaya lebih mengenal seperti apakah kayu bayur itu? Berikut ini adalah spesifikasi yang sekaligus merupakan ciri-ciri dari kayu bayur:
  1. Warna kayu : Bagian teras dari kayu bayur biasanya berwarna merah pucat tapi ada juga yang berwarna merah coklat muda. Sedangkan bagian gubal berwarna putih. (Baca apa yang dimaksud teras dan gubal pada kayu).
  2. Tekstur kayu: kayu bayur umumnya bertekstur kasar dengan serat yang lurus.
  3. Berat jenis rata-rata: menurut dephut.go.id, berat jenis rata-rata kayu bayur adalah 0,52. Itu berarti lebih ringan daripada kayu jati
  4. Daya retak kayu: kayu bayur umumnya tidak gampang retak ( daya retaknya bisa dikatakan rendah).
  5. Kekerasan kayu : Jika dibandingkan dengan jenis kayu pertukangan lainnya, tingkat kekerasan kayu bayur tergolong sedang.

Lalu apakah kayu bayur ini termasuk jenis kayu pertukangan yang kuat?

Kayu Bayur 2

Jika kuat yang dimaksud adalah ketahan terhadap rayap atau serangga pelapuk kayu lainnya, kayu bayur tergolong kurang kuat. Tapi, untuk masalah kekuatan pada konstruksi ketika dikerjakan, kayu bayur terbukti cukup kuat, kayu ini bisa disekrup dengan baik dan kuat, sama halnya dengan kayu jati. Dan merujuk pada situs dephut.go.id lagi, Tingkat kuat kayu bayur adalah kelas II hingga III (medium), sedangkan tingkat keawetannya adalah kelas IV(mudah lapuk).

flora jelutung

Jelutung
JELUTUNG (Dyera spp)

BUDIDAYA JELUTUNG
Di Indonesia terdapat dua jenis jelutung, yaitu: Dyera costulata Hook. F. dan Dyera lowii Hook. F. Kedua jenis ini termasuk famili Apocynaceae. Jelutung, di Kalimantan disebut pantung, di Sumatera disebut labuai, di Semenanjung Melayu disebut ye-luu-tong, dan di Thailand disebut teen-peet-daeng.

Pohon jelutung berbentuk silindris, tingginya bias mencapai 25-45 m, dan diameternya bisa mencapai 100 cm. Kulitnya rata, berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dan bertekstur kasar. Cabangnya tumbuh pada batang pohon setiap 3-15 m. Bentuk daunnya memanjang, pada bagian ujungnya melebar dan membentuk rokset. Sebanyak 4-8 helai daun tunggal itu duduk melingkar pada ranting.

Jelutung berbunga dua kali setahun. Bunga malainya berwarna putih, dan buahnya berbentuk polong. Apabila sudah matang, buahnya pecah untuk menyebarkan biji-bijinya yang berukuran kecil dan bersayap ke tempat di sekitarnya.

Jelutung tumbuh baik di daerah hutan hujan tropis yang beriklim tipe A dan tipe B menurut Schmidt & Ferguson; tanah berpasir, tanah liat, dan tanah rawa; dengan ketinggian tempat tumbuhnya 20-80 m dari permukaan laut.


SEKILAS BUDIDAYA DAN PERTUMBUHAN JELUTUNG

PEMBUATAN BIBIT
Setelah satu minggu direndam benih jelutung mulai berkecambah. Lalu disapih ke media tumbuh. Caranya, benih ditanam sepertiga bagian bijinya dengan embrio menghadap kebawah. Benih sapihan itu akan naik dari permukaan tanah setelah 15-20 hari.

Pertumbuhan benih berikutnya terlihat setelah lebih kurang satu bulan, dimana kulit benih pecah, dan tumbuh daun makota atau daun semu. Dan setelah 7-9 bulan, bibit jelutung yang tingginya 30-50 cm, siap ditanam di lapangan.


PENANAMAN
Penanaman bibit jelutung dilakukan dengan jarak 7 m x7 m atau 10m x 10m, dan dengan menggunakan sistim jalur. Sebabnya, pada awal pertumbuhan bibit jelutung membutuhkan naungan terlebih dahulu sebelum dapat menyesuikan dengan lingkungannya.

PEMELIHARAAN
Pemeliharaan tanaman jelutung relatif mudah karena tanaman jelutung muda memiliki kemampuan tumbuh yang tinggi. Pada awalnya pertumbuhan anakan jelutung cepat, daunnya lebih lebar, dan berwarna hijau. Kemudian pertumbuhannya melambat, dan pada usia lima tahun daunnya kaku, mengeras dan mengecil. Selama masa pertumbuhannya itu hanya sedikit memerlukan penyiangan dan pendangiran pada pangkal batangnya.

Sebagai contoh, pada Areal Model Budidaya Jelutung di KM-55 Jalan Palangkaraya-Sampit yang dibangun oleh Balai Pengelolaan DAS Kahayan, Propinsi Kalteng, pertumbuhan tinggi dan diameternya menunjukan angka yang menggembirakan. Pada lahan seluas 10 ha itu, pada tahun 2001 ditanam bibit jelutung dengan sistim jalur dan dengan jarak tanam 7 m x 7 m. Saat ini tanaman yang terbesar berdiameter 15 cm, dan tingginya 7 m. Sedangkan pohon yang terkecil berdiameter 6 cm, dan tingginya 4 m.


MANFAAT EKONOMIS JELUTUNG


GETAH
Pohon jelutung menghasilkan getah berwarna putih. Penyadapan getah jelutung dilakukan padas pohon jelutung yang berdiameter lebih-kurang 20 cm. Sekali penyadapan menghasilkan getah jelutung 0,1-0,6 kg/pohon. Setahun penyadapan getah jelutung bisa dilakukan 40 kali. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha, maka nilai ekonomis getah jelutung per hektar Rp 2.400.000,- - Rp 13.440.000,-.

KAYU
Setelah pohon jelutung tidak lagi menghasilkan getahnya, pohonnya bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Kayu jelutung dapat digunakan untuk bahan: cetakan bangunan, meja gambar, kelom, ukiran, sepasiter baterai, kayu lapis dan pensil.

Menurut perencanaan pembangunan hutan rakyat, pertumbuhan diameter pohon jelutung rata-rata 1,58 cm/tahun, dan dengan umur masak tebangnya 35 tahun, maka rata-rata diameter pohonnya lebih besar 50 cm. Dengan asumsi rata-rata tinggi pohon bebas cabang 15 m, volume rata-rata 2,94 m3, jumlah pohon 200/ha, dan harga kayu di pasaran Rp. 200.000,-/m3, maka nilai kayu jelutung per ha Rp. 117.600.000,-


PELUANG PASAR GETAH JELUTUNG
Selama ini Negara Indonesia menjadi pemasok getah jelutung terbesar pada negara-negara importir. Kebutuhan getah jelutung untuk berbagai industri diberbagai Negara, belum bisa dipenuhi seluruhnya oleh Negara Indonesia.








PENUTUP

Sebagai salah satu komoditi hasil hutan non kaya yang prospek pemasarannya sangat baik, sejalan dengan program rehabilitasi hutan dan lahan, di masa depan pihak-pihak terkait dengan kehutanan diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan hutan tanaman jelutung, baik dikawasan hutan maupun dilahan milik masyarakat.




pohon Jelutung