ENAU
Pemerian
Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25
m. Berdiameter hingga 65
cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai
ijuk,
injuk,
juk atau
duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari
pelepah daun yang menyelubungi batang.
Daunnya majemuk menyirip, seperti daun
kelapa,
panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti
pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan
keputih-putihan oleh karena lapisan
lilin di sisi bawahnya.
Berumah satu,
bunga-bunga
jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang
muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk
bulat peluru, dengan
diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga,
[2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap
tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna
hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.
Kegunaan
Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil
gula.
Nira dan gula
Tongkol bunga jantan (kanan) dan yang disadap niranya (sebelah kiri)
Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan
serbuk sari
yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan
memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari
dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang
bambu untuk menampung cairan yang menetes.
Cairan manis yang diperoleh dinamai
nira (alias
legen atau
saguer),
berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang
telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari
dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.
Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi
gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan
pengeras (misalnya campuran getah
nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula
gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak
kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai
gula semut.
Di banyak daerah di
Indonesia, nira juga biasa di
fermentasi menjadi semacam minuman ber
alkohol yang disebut
tuak atau di daerah timur juga disebut
saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu
nirih (
Xylocarpus) atau sejenis
manggis hutan (
Garcinia))
ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar
berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan
dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit.
Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi
cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.
Nira mentah (segar) bersifat pencahar (
laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan
roti.
[1]
Kolang-kaling
Buah aren dan kolang-kaling
Buah aren (dinamai
beluluk,
caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (
endosperma)
yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda
intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus
untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam
dalam air
kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.
[1].
Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas,
inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20
hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai
buah atep (
buah atap) atau
kolang-kaling.
Kolang-kaling disukai sebagai campuran es,
manisan atau dimasak sebagai
kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan
Ramadhan.
Produk lain
Sebagaimana
nipah dan
rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (
janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai
daun kawung. Lembar-lembar daunnya di
Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah
durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi
tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang
anyaman sederhana dan
sapu lidi.
Seperti halnya daun,
ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air
laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan
sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan
benang, tali
pancing dan senar
gitar Batak.
Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian
dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai
papan,
kasau atau dibuat menjadi tongkat.
Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan
sagu,
meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah
memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran
air.
Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau
cambuk.
[1]
Ekologi dan penyebaran
Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal usul dari wilayah
Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari
India timur di sebelah barat, hingga sejauh
Malaysia,
Indonesia, dan
Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m
dpl..
[2] Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing
sungai.
Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai
hewan.
Musang luwak
diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan
secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di
Bangka, pada masa lalu orang-orang
Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan
babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan.
[1]
Perbanyakan
Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui
bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil
dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :
- Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun.
Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang
memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15
liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi
dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi
nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam
sebagai pohon induknya.
- Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi.
Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang
(tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal
ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk
perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan
pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas
dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap
niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.
Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:
1.
Pengumpulan buah
- Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang
ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak
terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah
yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini
dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk
memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.
2.
Pengambilan biji dari buah
- Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung
tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan
rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah
aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga
biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji
dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.
Anakan (semai) pohon aren
3.
Perkecambahan
- Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir
dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat
perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir
(ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira
3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam
endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk
mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.
4.
Pembibitan
- Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai
panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong
plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya
dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang
dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini
memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari
secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan
setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.